Dinsdag 28 Mei 2013

Manusia, Pendidikan dan Kebudayaan


Manusia, Pendidikan dan Kebudayaan


A. Manusia
            Manusia merupakan makhluk hidup yang lebih sempurna apabila dibandingkan dengan makhuk-makhluk hidup yang lain. Akibat dari unsur kehidupan yang ada pada manusia, manusia berkembang dan mengalami perubahan-perubahan, baik perubahan-perubahan dalam segi fisiologis maupun perubahan-perubahan dalam segi psikologis. Bagaimana manusia berkembang dibicarakan secara mendalam dalam psikologi perkembangan sebagai salah satu psikologi khusus yang membicarakan tentang masalah perkembangan manusia. Mengenai faktor-faktor yang akan menentukan dalam perkembangan manusia ternyata terdapat bermacam-macam pendapat dari para ahli, sehingga pendapat-pendapat itu menimbulkan bermacam-bermacam teori mengenai perkembangan manusia. Teori yang satu berbeda dengan teori yang lain, bahkan ada yang bertentangan satu dengan yang lain. Teori-teori perkembangan tersebut ialah :
1.Teori Nativisme                                                             
            Teori ini menyatakan perkembangan manusia itu akan ditentukan oleh faktor-faktor nativus, yaitu faktor-faktor keturunan yang merupakan faktor-faktor yang dibawa oleh individu pada waktu dilahirkan. Menurut teori ini sewaktu Individu dilahirkan telah membawa sifat-sifat tertentu, dan sifat-sifat inilah yang akan menentukan keadaan individu yang bersangkutan, sedangkan faktor lain yaitu lingkungan, termasuk di dalam nya pendidikan dapat dikatakan tidak berpengaruh terhadap perkembangan individu itu. Teori ini dikemukakan oleh Schopenhouer ( Bigot, dkk., 1950 ).[1]
Teori ini menimbulkan pandangan bahwa seakan-akan manusia telah ditentukan oleh sifat-sifat sebelumnya, yang tidak dapat diubah, sehingga individu akan sangat tergantung pada sifat-sifat yang diturunkan oleh orang tuanya.
Apabila orang tuanya baik, seseorang akan menjadi baik, sebaliknya apabila orang tuanya jahat, seseorang akan menjadi jahat. Sifat baik atau jahat itu tidak dapat diubah oleh kekuatan-kekuatan lain. Teori ini menimbulkan konsekuensi pandangan bahwa manusia apabila dilahirkan baik akan tetap baik, sebaliknya apabila manusia dilahirkan jahat akan tetap menjadi jahat, yang tidak dapat diubah oleh pendidikan dan lingkungan.
Karena itu teori ini dalam pendidikan menimbulkan pandangan pesimistis, yang memandang pendidikan sebagai suatu usaha yang tidak berdaya menghadapi perkembangan manusia. Teori ini lebih jauh dapat menimbulkan suatu pendapat bahwa untuk menciptakan masyarakat yang baik, langkah yang dapat di ambil ialah mengadakan seleksi terhadap anggota masyarakat. Anggota masyarakat yng tidak baik, tidak diberi kesempatan untuk berkembang, karena ini akan memberikan keturunan yang tidak baik pula. Tetapi teori ini tidak dapat diterima oleh ahli-ahli kain, ini terbukti dengan adanya teori-teori lain yang diantara nya seperti yang dikemukakan oleh William Stern.
2.Teori Empirisme
            Teori ini menyatakan bahwa perkembangan seseorang individu akan ditentukan oleh empirinya atau pengalaman-pengalaman yang diperoleh selama perkembangan individu itu. Dalam pengertian pengalaman termasuk juga pendidikan yang diterima oleh individu yang bersangkutan. Menurut teori ini, individu yang dilahirkan itu sebagai kertas atau meja yang putih bersih yang belum ada tulisan-tulisannya. Akan menjadi apakah individu itu kemudian, tergantung kepada apa yang akan dituliskan di atasnya. Karena itu peranan para pendidik dalam hal ini sangat besar, pendidik lah yang akan menetukan keadaan individu itu dikemudian hari. Karena itu aliran atau teori ini dalam lapangan pendidikan menimbulkan pandangan yang optimisme yang memandang bahwa pendidikan merupakan usaha yang cukup mampu untuk membentuk pribadi individu. Teori empirisme ini dikemukakan oleh John Locke, juga sering dikenal dengan teori tabularasa, yang memandang keturunan atau pembawaan tidak mempunyai peranan.[2]
            Apabila dilihat kedua teori tersebut diatas merupakan teori-teori yang saling bertentangan satu dengan yang lain. Teori nativisme sangat menitikberatkan pada segi keturunan atau pembawaan. Sebaliknya teori empirisme sangat menitikberatkan pada empiri, pada lingkungan, kedua-duanya merupakan teori yang sangat menyebelah. Berhubung dengan hal tersebut adanya usaha untuk menggabungkan kedua teori ini yaitu merupakan teori konvergensi.


[1] Anastasi,A,Psychologi Testing, (New York ; 1967) hlm.200
[2] Bugelki,B.R.,The Psychology of learning (London ; 1956) hlm.462

Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking